SELAMAT DATANG DI BLOGGER SAYA YANG SEDERHANA INI

Jumat, 10 Desember 2010

“Terbang di bawah radar”

Ditulis Oleh: Bepe, waktu: 10 December 2010, pada kategori:Umum
Sehari setelah pertandingan melawan Thailand, saya sempat menulis di akun twitter saya seperti berikut
“@bepe20: Semalam, secara fisik saya masih merasa bugar.. Akan tetapi dua pinalty itu, secara psykologis membuat emosi saya terkuras habis tidak tersisa..”
Seharusnya, mengingat apapun hasil pertandingan tersebut Indonesia tetap melaju ke semifinal sebagai juara group, komentar saya diatas memang terkesan berlebihan. Akan tetapi jika di lihat dari tekanan masyarakat selama ini yg begitu hebat kepada diri saya, maka hal tersebut menjadi sangat wajar..
Saat itu, saya tidak hanya berhadapan dengan Shintaweecai (Kiper Thailand), akan tetapi saya juga harus berhadapan dengan masyarakat yg meragukan kapasitas saya sebagi pemain nasional. Apalagi mengingat saat pinalty itu terjadi, Indonesia dalam posisi tertinggal 0:1 dari Thailand, maka saat itu saya juga membawa asa dari seluruh pendukung merah putih, yg sangat berkeinginan mengakhiri rekor kekalahan selama 12 th dari negeri gajah putih tersebut..
Dan secara jujur saya katakan, jika saat itu saya dalam keadaan sangat terkekan dan tegang. Dapat anda sekalian bayangkan jika saat itu saya gagal mengeksekusi tendangan 12 pas tersebut, kira-kira apa yg akan tertulis di media masa keesokan harinya..?? Apa komentar masyarakat yg selama ini tidak menyukai saya..?? Saya yakin mereka pasti akan semakin mengubur saya lebih dalam lagi hehehe..
Arrgghh,, tetapi sudahlah, mari kita tinggalkan peristiwa pinalty dan segala beban yg saya rasakan saat itu. Pada kesempatan kali ini, saya lebih tertarik membahas kejadian yg terjadi setelah pertandingan Indonesia Vs Thailand tersebut usai. Yaitu saat saya tidak berkomentar sedikitpun kepada rekan-rekan wartawan di area mixed zone stadion utama Gelora Bung Karno..
Hampir semua wartawan menilai saya sebagai pribadi yg sombong bahkan arogan, secara pribadi saya sama sekali tidak menyalahkan mereka mengenai komentar tersebut. Akan tetapi bukankah memang selama bertahun-tahun saya tidak pernah berkomentar di area mixed zone..?? Bukankah mereka sudah tau, jika saya lebih nyaman berkomentar di konferensi pers resmi atau melalui situs pribadi saya..?? Oleh karena itu dalam pandangan saya, apa yg saya lakukan saat itu bukanlah hal yg baru dan seharusnya juga bukan menjadi hal yg aneh…
Mereka (rekan-rekan wartawan) berhak menilai apapun mengenai hal tersebut. Akan tetapi sebagai pribadi, tentu saya mempunyai alasan yg kuat mengapa saya berlaku demikian. Maka melalui artikel ini, saya akan sedikit berbagi cerita mengenai hal-hal yg membuat saya menjadi lebih berhati-hati dalam menghadapi rekan-rekan wartawan. Bukan anti terhadap wartawan, akan tetapi sekali lagi lebih berhati-hati..
Dan sekarang, saya akan mulai bercerita:
“I do my job on the pitch, the journalist do theirs by asking me quesions. But sometimes the most awaited moment is when i didn’t play so well, and that makes me upsat. That’s why i have my own way to communicate with them, to make a good will between us”
Ketika saya berbicara dengan wartawan, saya selalu berusaha memberikan diri saya seutuhnya. Saya berusaha menyampaikan secara jujur dan apa adanya tentang pendapat dan jawaban-jawaban saya (Terkadang terlalu jujur malah) dan hal tersebut membutuhkan energi, iya membutuhkan energi yg tidak sedikit..
Akan tetapi pada kenyataannya, hal tersebut malah membuat saya membuang-buang waktu dan energi dua kali. Pertama saat saya berbicara kepada mereka dan kemudian saat saya membaca hasil dari wawancara tersebut keesokan harinya. Karena akan selalu ada hal yg tidak sama, antara apa yg saya sampaikan dengan apa yg mereka tulis, dan sejujurnya itu sangat mengecewakan…
Seperti yg pernah saya sampaikan dalam artikel saya (Kita memiliki kekuatan baru : 2010) -  ”Di belahan dunia manapun dan dalam profesi apapun, akan selalu ada sedikit ruang diantara para wartawan dan nara sumbernya yg tidak dapat terisi dengan baik”. Sebuah keadaaan yg tidak akan pernah dapat di selesaikan menurut saya, hal yg mampu kita lakukan hanyalah mempersempit ruangan itu, akan tetapi tidak untuk menghilangkannya..
Sejujurnya, saya hanya menginginkan sebuah kerjasama yg “Fair” dengan rekan-rekan wartawan, sebuah kerjasama yg tidak menguntungkan salah satu pihak dan juga sebuah kerjasama yg tidak merugikan salah satu pihak. Karena sejatinya tidak akan pernah ada sebuah kerjasama yg saling menguntungkan antara wartawan dan narasumbernya…
Yang saya maksut dengan kerjasama yg “Fair” adalah. Ketika saya melakukan kesalahan atau hal yg negatif, maka seranglah saya secara terbuka. Akan tetapi ketika saya melakukan hal yg baik atau positif, maka sudah selayaknya saya juga mendapatkan apresiasi yg baik. Secara pribadi, saya juga tidak ingin selalu di beritakan dalam hal-hal yg positif saja, karena hal tersebut malah akan membuat saya tidak dapat mengontrol diri..
Dalam setiap profesi, saya yakin jika kita terikat dengan sebuah etika dalam bekerja, sebuah etika yg sudah seharusnya kita sama-sama patuhi dan jalankan sepenuh hati. Saya rasa kurang bijaksana jika kita menulis atau menilai seseorang hanya karena faktor suka dan tidak suka tanpa mengenal betul si nara sumber, karena bagi saya itu melanggar etika jurnalisme..
Seperti yg anda sekalian ketahui, saya adalah seseorang yg sangat suka menulis. Jika anda perhatikan, saya bukanlah pribadi yg anti terhadap kritik, bahkan dalam beberapa artikel saya, saya mengkrikisi diri saya sendiri, ketika saya rasa ada hal yg salah mengenai diri saya. Akan tetapi di sisi lain, saya juga tidak jarang memuji diri saya sendiri, ketika saya rasa ada hal positif yg saya lakukan. Itu saya lakukan untuk membentuk karakter pribadi saya sendiri…
Dalam beberapa tulisan, saya juga mengkritik pak Nurdin Halid, pak Andi Darussalam Tabusalla atau bahkan PSSI. Akan tetapi hal tersebut saya lakukan secara “Fair” atas nama pelaku sepakbola yg ingin dunia persepakbolaan Indonesia lebih baik lagi, bukan karena rasa suka atau tidak suka terhadap pribadi orang-orang tersebut…
Sejujurnya saya kagum dengan sosok Irfan Bachdim, yg dalam pendapat saya mampu memosisikan dirinya seperti David Beckam kepada para penggemar dan wartawan. Irfan selalu tersenyum kepada semua orang, melayani setiap wanwancara dan terlihat sangat nyaman dalam melakukan hal-hal tersebut. Saya tau itu membutuhkan energi yg tidak sedikit, dan Irfan mampu melakukan itu, anak itu sangat luar biasa dimata saya..
Sedangkan saya sendiri, eeehhhmm,, Bambang Pamungkas lebih memilih jalan terjal dan berliku dalam berhubungan dengan wartawan, saya lebih memosisikan diri saya sebagai Paul Gascoigne di mata mereka. Sebuah pribadi yg menjengkelkan, membuat kening berkernyit, menentang arus dan memancing cacian serta makian. Akan tetapi setidaknya saya tidak sedang membohongi diri saya sendiri, saya hanya ingin berlaku jujur terhadap hati dan perasaan saya..
Jika boleh saya ibaratkan karakter saya dengan sebuah genre musik, maka Bambang Pamungkas di atas lapangan adalah sebuah musik keroncong, dengan ritme yg tenang, bersinergi, mengalun lembut dan menghanyutkan. Sedangkan Bambang pamungkas di luar lapangan adalah sebuah musik Hip-Hop dan R&B, dimana penuh dengan gejolak, berapi-api serta bergebu-gebu dalam menjalani hidup dan mengungkapkan pendapat serta pikirannya. “I am not a critizicing machine, i just a realistic man who says what i thinks” ..
Hal tersebut yg terkadang membuat mulut saya tidak cukup mampu mengejawantahkan apa yg ada dalam pikiran serta benak saya. Saya merasa, jari-jemari saya (Melalui tulisan) lebih mampu megungkapkan perasaan gejolak hati saya secara lebih bermotif, terperinci serta tersesun dengan rapi…
” That’s why i prefer writing on my personal website as i can express an open and honest view of any subject, without any hesitation that might couse a public misunderstanding”
Maka biarlah mereka para pemain muda yg berbicara, sedangkan saya tetap dengan cara yg selama ini saya lakukan, yaitu “Terbang di bawah radar”. Saya merasa sangat nyaman dengan cara saya tersebut. Karena cara itu, membuat saya tidak terbang terlalu tinggi menyentuh awan (Besar kepala) dan lebih dekat dengan bumi (Tetap kontrol diri). Sehingga, ketika suatu saat nanti saya harus mendarat (Berhenti bermain sepakbola), maka semuanya akan berjalan lebih mudah, lebih halus dan lebih tenang..

Senin, 27 September 2010

Harga Tiket INDONESIA VS URUGUAY

Harga Tiket Antara INDONESIA VS URUGUAY Tgl 8 Oktober 2010 Di Jakarta 100-150 Ribu Paling Mahal 200 Ribu Ujar Iman Arif(Badan Tim Nasional)Selain Uruguay INDONESIA Akan Menjajal Kekuatan HONDURAS,CHINA,Pantai Gading Dan Timor Leste

Minggu, 05 September 2010

hanya sebuah cerita (jakmania)

JAKMANIA .siapa sih yang tak kenal jakmania ? supporter persija yang dikenal selalu setia mendukung persija dimana pun berada. Baik partai kandang maupun tandang .

Ketika macan kemayoran mulai berlaga ,jakmania siap beraksi untuk mendukung persija .Panas ,ujan engga ada apa-apanya demi persija .
Hal itu yang membuat gua bangga jadi jakmania, dan penyebab lain adalah kebersamaan nya.apalagi waktu berkumpul seperti kaya keluarga. Tapi gua lebih bangga sama persija .
Kenapa ? karena persija yang gue cinta , persija yang biking gue paham tentang sepakbola .dan lain-lain .

Pokok nya gue cinta persija ampemati

Gue jakmania
Cinta persija
Salam satu jiwa
Salam damai untuk semua

BAMBANG PAMUNGKAS


JANGAN PERNAH BERHENTI UNTUK BERMIMPI .kata itu engga asing banget buat para bepe lovers ,terutama buat gua pribadi .bagaimana tidak ? karena itu adalah kutipan seorang bepe .
Jujur pribadi , gua ngefanz sama bepe .dia idola gua ,sekaligus inspirator .

Hal yang bikin gua ngefanz sama dia adalah ::

Alasan pertama ,karena permainan bola nya .
Itu sudah pasti karena dia jago main bola

Alasan kedua , karena loyalitas nya terhadap persija
Gua rasa orang pasti udah bisa nilai ,bagaimana bepe dengan persija nya ? begitu erat ,apalagi dia udah memberikan kemampuan yang dia punya pada persija

Dan alasan ketiga ,karena semangat dari bepe
Ditengah-tengah orang meragukan kemampuan nya.dia terus berjuang dan mencoba menemukan jatidiri nya .
Dan ditengah-tengah menurun nya permainannya ,dia terus mencoba dan mencoba .dan hasil nya ga sia-sia . dia selalu dipercaya untuk jadi striker andalan persija.

Dan pesan gua ,jadikan idola mu sebagai inspirator mu . semoga aja sosok seorang bepe bisa dicontoh oleh orang lain dan terutama diri kita .

Gue yakin masih banyak bepe-bepe yang lain .untuk itu penerus bangsa ,inget terus :: “JANGAN PERNAH BERHENTI UNTUK BERMIMPI”.

Pokok nya semangat terus bepe . dan buat bepe lovers jangan penah berhenti untuk mendukung karir bepe .apalagi berhenti buat mencintai persija .


Gua jakmania
Cinta persija
salam satu jiwa
Dan salam damai untuk semua


Sabtu, 04 September 2010

PSM U-21 Seri Lawan Yahukimo FC

Jumat, 3 September 2010 | 02:23 WITA
Makassar, Tribun - Dua tim yang sedang mematangkan persiapan untuk event berbeda, PSM U-21 dan Yahukimo FC, bermain imbang 1-1 pada pertandingan uji coba di Lapangan Karebosi, Kamis (2/9). 
PSM U-21 yang dipersiapkan untuk kompetisi Liga U-21, akhir September ini, unggul duluan di menit ke-31 lewat Eko Nugroho.
Tapi keunggulan PSM U-21 yang dilatih Yusrifar Jafar tidak bertahan hingga pertandingan usai.
Yahukimo FC dari Provinsi Papua yang akan bertarung di kompetisi Divisi Satu, menyamakan skor di menit ke-65.
Yahukimo FC berada di Makassar untuk pemusatan latihan. Tim yang dilatih Rivai Arsyad ini sebelumnya mencatat kemenangan pada tiga kali uji coba.
Sedangkan PSM U-21, kata Yusrifar, akan berujicoba dengan PS Kostrad, Sabtu nanti. (mam/ij)

Rahmad Darmawan Fokus Kerjasama Tim

Pelatih baru Persija Jakarta, Rahmad Darmawan, terus menggenjot performa pemain-pemainnya. Persija kini kembali fokus menjalani latihan kerjasama tim setelah menjalani dua partai uji coba menghadapi tim amatir.

Persija berhasil mendapat hasil memuaskan dalam dua uji coba yang dilakoninya. Macan Kemayoran berhasil menggunduli dua tim amatir Universitas Negeri Jakarta dengan skor telak 8-0 dan PS Angkatan Laut dengan skor 6-0. Namun, menurut Tempo, meskipun berhasil menang dengan margin besar, Rahmad tetap menyatakan bahwa masih ada kelemahan yang harus dibenahi.

“Dari sisi organisasi permainan, Persija mulai ada peningkatan meski dua uji coba itu tidak bisa dijadikan patokan karena lawannya adalah tim lokal amatir. Saya juga punya catatan soal umpan yang sejauh ini masih kurang memuaskan karena akurasi umpan antar-lini masih rendah,” kata Rahmad .

Untuk mengefektifkan program latihan Persija, Rahmad berencana kembali menggelar uji coba sebelum dan sesudah lebaran. Persija berencana akan menggandeng tim Superliga Indonesia untuk uji coba tersebut, salah satunya adalah tim juara ISL 2009/10

Jumat, 03 September 2010

UJI COBA

Persija Jakarta akan menjajal kemampuan Semen Padang di Stadion Utama Gelora Utama Bung Karno (SUGBK), Selasa, 7 September 2010. Ini merupakan ketiga Persija jelang bergulirnya kompetisi 2010/2011.

Persija telah melakoni dua kali uji coba kontra tim lokal di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Kedua pertandingan ini sengaja tidak dibocorkan ke publik untuk mengantisipasi membludaknya penonton.

Pada uji coba pertama, Rabu, 1 September 2010, Persija membantai tim UNJ (Universitas Negeri Jakarta) 8-0. Sehari kemudian, Macan Kemayoran juga mengalahkan tim PS AL dengan skor telak 6-0.

"Sejauh ini saya cukup puas dengan penampilan anak-anak," kata Pelatih Persija, Rahmad Darmawan saat dihubungi VIVAnews, Jumat, 3 September 2010.

"Kalaupun ada kekuarang hanya frekwensi sirkulasi passing-nya saja. Itu juga saya pikir karena faktor lapangan yang tidak rata," sambungnya.

Menurut Rahmad, kemampuan tim masih akan terus meningkat. Pasalnya, dalam dua uji coba yang dilalui Persija masih minus pemain-pemain yang berada di timnas seperti Toni Sucipto, M Nasuha, dan Bambang Pamungkas.

Selain itu, komposisi pemain asing Persija juga belum lengkap. " Bentuk permainan sudah kelihatan, apalagi kalau nanti pemain timnas dan asing sudah iktu bergabung," kata Rahmad.

"Sejauh ini kami baru mencoba dua pola. Mungkin setelah lebaran akan kami coba satu lagi. Nanti tinggal disesuaikan dengan urgensinya saja," tandas Rahmad.